AS MENEGASKAN POLITIK IMPERIALISMENYA
AS MENEGASKAN POLITIK IMPERIALISMENYA
1️⃣Perubahan nama Department of Defense menjadi Department of War bukan sekadar soal istilah administratif.
Ia adalah pernyataan politik terbuka—sebuah penanda perubahan cara
Amerika Serikat memandang peran dan posisinya di dunia.
2️⃣Alasan meninggalkan ideologi “woke” dan
memasuki era “kemenangan militer” menunjukkan pergeseran paradigma yang serius.
Kekuatan militer tidak lagi dikemas sebagai instrumen pertahanan, melainkan dipertontonkan
secara gamblang sebagai alat dominasi.
3️⃣Langkah ini hadir bersamaan dengan
meningkatnya intensitas operasi militer AS di berbagai kawasan strategis.
Padahal sebelumnya, Amerika kerap mengklaim diri sebagai pembawa perdamaian dan
pemersatu dunia.
Kontradiksi ini menegaskan satu hal: arah kebijakan yang semakin ofensif.
4️⃣Secara geopolitik, Amerika Serikat
tampak berhenti berpura-pura sebagai penjaga stabilitas global.
Ia kini menampilkan diri sebagai kekuatan imperialis yang secara terbuka
mengutamakan kepentingan ekonomi, energi, dan pengaruh strategis 🌍
5️⃣Normalisasi istilah “perang” berpotensi
melegitimasi agresi.
Hukum internasional dan Piagam PBB kembali terlihat rapuh ketika berhadapan
dengan kehendak negara adidaya.
6️⃣Dampak paling nyata dari kebijakan ini
tidak pernah dirasakan para pengambil keputusan.
Korban sesungguhnya adalah masyarakat sipil di wilayah konflik, yang
menanggung penderitaan dari keputusan yang dibuat jauh dari medan perang.
7️⃣Di tengah keterbukaan bahasa perang ini,
pertanyaan besar patut diajukan:
Apakah dunia sedang memasuki babak baru geopolitik global—
atau kita hanya menyaksikan wajah lama imperialisme yang akhirnya tampil
tanpa topeng?
“Bahasa perang yang dinormalisasi selalu berakhir pada
penderitaan rakyat. Setuju?”
@portalperadabanislam
#Geopolitik #Imperialisme #PolitikGlobal #AmerikaSerikat #Perang
#AnalisisGlobal
Sumber : https://alwaie.net/

Posting Komentar untuk "AS MENEGASKAN POLITIK IMPERIALISMENYA"