ELEGAN ITU MEMBANTAH, BUKAN MEMBAKAR
ELEGAN ITU MEMBANTAH, BUKAN MEMBAKAR
Yang paling mengkhawatirkan dari pembakaran buku bukanlah
apinya.
Melainkan keyakinan bahwa seseorang merasa paling benar,
sampai tidak lagi merasa perlu membaca, memahami, atau berdiskusi.
Cukup dibakar.
Hari ini yang dibakar adalah buku.
Besok, bisa jadi orang yang berbeda pendapat.
Anda boleh tidak setuju dengan isi sebuah buku.
Anda boleh menganggapnya salah, berbahaya, bahkan menyesatkan.
Tetapi ketika respons pertama adalah membakarnya, berarti
yang ditolak bukan lagi sekadar isi buku itu.
Yang ditolak adalah hak sebuah gagasan untuk hadir.
Padahal gagasan tidak pernah benar-benar kalah oleh api.
Justru semakin dibakar, semakin banyak orang ingin tahu.
Hal yang paling menarik: buku itu dikirim sebagai hadiah.
Artinya, masih ada orang yang memilih datang membawa bacaan,
bukan cacian.
Membawa argumen, bukan ancaman.
Orang boleh tidak menyukai mereka.
Namun setidaknya mereka masih percaya bahwa perbedaan seharusnya dijawab dengan
pikiran.
Dan itu jauh lebih terhormat daripada membakar buku, lalu
mengunggahnya ke media sosial seolah sedang melakukan sesuatu yang heroik.
Sejarah selalu menunjukkan hal yang sama:
Orang yang yakin terhadap pikirannya akan mengajak
berdiskusi.
Orang yang ragu terhadap pikirannya akan memilih membungkam.
Karena orang yang benar-benar percaya pada keyakinannya,
tidak takut pada sebuah buku.
Ia cukup membaca, lalu membantah.
Ironisnya, banyak orang mengaku mencintai ilmu, diskusi, dan
kebebasan berpikir.
Tetapi ketika berhadapan dengan buku yang tidak sesuai dengan
keyakinannya, responsnya justru emosional.
Padahal kalau benar yakin terhadap pendapat sendiri,
semestinya ia mampu menunjukkan di mana letak salahnya.
Dengan tenang.
Dengan argumen.
Dengan kepala dingin.
Bukan dengan api.
Ini bukan soal membela isi buku tertentu.
Ini soal menolak kebiasaan buruk yang perlahan mulai dianggap
wajar:
Bahwa setiap perbedaan harus dihabisi.
Padahal masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang semua
anggotanya berpikir sama.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang tetap mampu
berdialog, bahkan ketika berbeda keyakinan.
Karena peradaban tidak runtuh ketika ada buku yang dianggap
salah.
Peradaban runtuh ketika orang berhenti membaca, berhenti
berpikir, lalu mulai bangga membakar buku.
Kalau Anda menemukan buku yang sangat tidak Anda setujui, apa
yang akan Anda lakukan?
Membaca?
Membantah?
Atau membakarnya?
#BacaDuluBaruBantah #LawanDenganArgumen #JanganTakutPadaBuku

Posting Komentar untuk " ELEGAN ITU MEMBANTAH, BUKAN MEMBAKAR "