Kesungguhan dalam Ilmu
Kesungguhan dalam Ilmu (الجد في طلب العلم)
1. Hakikat Kesungguhan dalam Ilmu
Dalam kitab At-Tafkiir, dijelaskan bahwa manusia
dimuliakan Allah dengan akal, sehingga kemuliaannya bergantung pada
aktivitas berpikir yang benar.
Berpikir bukan sekadar menghasilkan pengetahuan, tetapi
menghasilkan ilmu yang mampu mengubah kehidupan.
Karena itu kesungguhan dalam ilmu berarti:
- bersungguh-sungguh memahami fakta,
- berpikir mendalam,
- mencari dalil,
- kemudian mengamalkannya.
Kitab ini mengecam orang yang belajar hanya untuk menikmati
ilmu secara intelektual.
Disebutkan:
"Ilmu tidak dituntut untuk dinikmati, tetapi dituntut
agar diamalkan dalam kehidupan."
Dengan demikian ukuran kesungguhan bukan banyaknya hafalan,
tetapi sejauh mana ilmu menghasilkan amal.
Kitab Syakhshiyyah Islamiyyah Juz 1 menjadikan ayat
berikut sebagai landasan bahwa ilmu harus didahulukan sebelum amal.
Allah berfirman:
"...Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarkan
kepada kalian..."
Kemudian dijelaskan:
"Ilmu didahulukan sebelum amal. Tidak mungkin seseorang
beramal tanpa mengetahui hukumnya terlebih dahulu."
Penjelasan kitab:
- ilmu lebih dahulu,
- baru amal,
- karena amal tanpa ilmu tidak sah.
Dalil lain
Allah berfirman
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
"Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila
kalian tidak mengetahui."
Ayat ini dijadikan hujjah bahwa seorang muslim wajib
bersungguh-sungguh mencari ilmu ketika belum mengetahui hukum syariat.
3. Dalil Hadits
Kitab Syakhshiyyah mengutip hadits:
"Obat kebodohan adalah bertanya."
(HR Abu Dawud)
Hadits ini dijadikan dalil bahwa seseorang tidak boleh malas
mencari ilmu.
Ketika tidak mengetahui hukum syariat maka jalan keluarnya
adalah belajar.
Dalam kitab At-Tafkiir juga dikutip atsar Ibnu Mas'ud:
"Barang siapa mengetahui suatu ilmu hendaklah ia
mengatakan, dan siapa yang tidak mengetahui hendaklah ia mengatakan: Allah
lebih mengetahui."
Ini menunjukkan kesungguhan dalam ilmu juga berarti jujur
terhadap batas pengetahuan dan tidak berbicara tanpa ilmu.
4. Argumen Mengapa Harus Bersungguh-sungguh
a. Karena amal bergantung kepada ilmu
Kitab Syakhshiyyah menjelaskan:
Tidak mungkin seseorang menjalankan hukum Allah tanpa
mengetahui hukumnya terlebih dahulu.
Maka:
Ilmu → Amal → Takwa
bukan
Semangat → Amal tanpa ilmu.
b. Ilmu untuk mengubah kehidupan
Kitab At-Tafkiir menjelaskan:
Berpikir yang benar harus menghasilkan perubahan nyata.
Ilmu bukan hiburan intelektual.
Ilmu bukan sekadar kepuasan berpikir.
Ilmu harus menjadi solusi kehidupan.
c. Kemunduran umat terjadi ketika ilmu kehilangan orientasi
Kitab Ad-Daulah al-Islamiyyah menjelaskan penyebab
kemunduran umat:
- ijtihad berhenti,
- aktivitas ilmiah melemah,
- ulama mencari ilmu hanya untuk
prestise,
- ilmu dipelajari demi kepuasan
intelektual,
- bukan untuk membangun umat.
Akibatnya umat kehilangan kekuatan berpikir.
Ini merupakan salah satu hujjah kuat bahwa kesungguhan dalam
ilmu adalah syarat kebangkitan umat.
5. Bentuk Kesungguhan Menurut Kitab Mafahim
Dalam Mafahim dijelaskan bahwa belajar harus
dilakukan:
- dengan semangat,
- penuh perhatian,
- menghubungkan ilmu dengan perasaan,
- lalu diterapkan dalam kehidupan.
Belajar tidak boleh hanya menjadi pengetahuan semata sehingga
seseorang menjadi "kitab yang berjalan". Ilmu harus menghubungkan
pemikiran dengan perasaan dan menghasilkan penerapan.
6. Sifat Orang yang Bersungguh-sungguh
Penuntut ilmu yang sungguh-sungguh memiliki ciri:
a. Selalu belajar sebelum beramal
Tidak berfatwa tanpa ilmu.
b. Mau bertanya
Karena bertanya merupakan obat kebodohan.
c. Tidak malu mengatakan
"Saya belum tahu."
Ini termasuk amanah ilmiah.
d. Menghubungkan ilmu dengan amal
Karena tujuan ilmu adalah memperbaiki kehidupan.
e. Terus berpikir
Tidak berhenti pada hafalan.
7. Adab Penuntut Ilmu
Dalam At-Tafkiir disebutkan beberapa adab, di
antaranya:
- tidak berbicara tanpa ilmu,
- menghindari sikap riya',
- tidak menjadikan ilmu untuk
berdebat dengan orang bodoh atau mencari popularitas,
- mendidik manusia secara bertahap,
dimulai dari ilmu-ilmu dasar sebelum yang lebih kompleks.
8. Hujjah Ulama dalam Kitab
Hujjah yang dikemukakan antara lain:
- Ilmu wajib mendahului amal, karena amal tanpa ilmu tidak
mungkin benar.
- Tujuan ilmu adalah amal, bukan sekadar kenikmatan
intelektual.
- Kemunduran umat terjadi ketika
aktivitas ilmiah berhenti
dan ilmu dipelajari bukan untuk membangun umat.
- Belajar harus melahirkan pemahaman
yang memengaruhi perasaan dan menghasilkan penerapan, bukan hanya hafalan.
Kesimpulan :
Kesungguhan dalam ilmu
bukan sekadar rajin membaca atau menghafal. Kesungguhan itu mencakup:
- menuntut ilmu sebagai kewajiban
sebelum beramal,
- berpikir secara mendalam dan benar,
- mencari dalil dan memahami hukum
Allah,
- jujur terhadap batas pengetahuan,
- menghubungkan ilmu dengan amal,
- menjadikan ilmu sebagai sarana
membangun diri dan umat.
#KesungguhanDalamIlmu #TholabulIlmi #AdabPenuntutIlmu
#AqidahIslam #SyariahIslam #UshulFiqih #Fiqih #Hadits #Tafsir #PemikiranIslam
#TsaqafahIslam #SyakhshiyahIslamiyah #AqliyahIslamiyah #DakwahIslam
#IslamKaffah #Ngaji #KajianIslam #BelajarIslam #FYP #Viral

Posting Komentar untuk "Kesungguhan dalam Ilmu "