105 TAHUN TANPA PERISAI: MENGAPA LUKA UMAT TAK PERNAH KERING?
105 TAHUN TANPA PERISAI: MENGAPA LUKA UMAT TAK PERNAH KERING?
Sudah 105 tahun umat Islam hidup tanpa perisai.
Dan selama itu pula, luka terus terbuka di mana-mana.
Gaza dibombardir.
Sudan hancur dari dalam.
Uyghur dipenjara.
Rohingya diusir dari tanahnya sendiri.
➡️ Derita ini bukan kebetulan. Ia berpola.
Umat Islam hari ini berjumlah lebih dari 2 miliar jiwa.
Negeri-negerinya kaya minyak, gas, emas, dan jalur strategis dunia.
Angkatan militernya tidak kecil.
Namun faktanya?
Umat justru menjadi korban paling lemah dan paling sering dizalimi.
Mengapa bisa begitu?
Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah tahun 1924, umat kehilangan pelindung politiknya.
Dulu, satu Muslim disakiti—seluruh umat bereaksi.
Hari ini, jutaan Muslim dibantai—dunia hanya “menyesalkan”.
Umat dipecah menjadi puluhan negara.
Suara tercerai.
Kekuatan kolektif hilang.
Kekosongan itu melahirkan para ruwaybidhah:
Penguasa kecil, berpikiran sempit, namun merasa mewakili umat.
Mereka bicara atas nama Islam,
tapi kebijakannya menguntungkan penjajah.
Mereka mengaku demi “stabilitas”,
namun justru mengamankan kursi, bukan umat.
Palestina disebut “konflik”.
Sudan disebut “perang saudara”.
Kashmir, Uyghur, Rohingya disebut “urusan internal”.
➡️ Padahal semua itu adalah kezaliman yang dibiarkan.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pemimpin adalah perisai umat.
Di balik perisai itulah umat berlindung dan berjuang.
Ketika perisai itu hilang,
serangan datang dari segala arah.
Dan selama 105 tahun, darah itu terus mengalir.
Bukan karena Islam lemah—
melainkan karena umat kehilangan pelindungnya.
Sejarah membuktikan:
Umat ini pernah memimpin dunia.
Harun ar-Rasyid.
Shalahuddin al-Ayyubi.
Muhammad al-Fatih.
Mereka bukan mitos.
Mereka fakta sejarah.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi:
“Mengapa umat selalu dizalimi?”
Tetapi:
“Sampai kapan kita hanya bertanya, tanpa memikirkan apa yang harus dilakukan?”
#SejarahIslam #MuslimAwareness #RefleksiUmat #IslamicReminder

Posting Komentar untuk "105 TAHUN TANPA PERISAI: MENGAPA LUKA UMAT TAK PERNAH KERING?"