BAI’AT ‘AQABAH KEDUA — BAI’AT NUSHRah _ Saat Iman Berubah Menjadi Tanggung Jawab Sejarah

 


🔥 BAI’AT ‘AQABAH KEDUA — BAI’AT NUSHRah
Saat Iman Berubah Menjadi Tanggung Jawab Sejarah


Musim haji tahun ke-13 kenabian.
Lebih dari 70 kaum Muslim dari Yatsrib datang ke Makkah.

Mereka tidak sekadar berhaji.
Mereka membawa kegelisahan besar:
👉 keselamatan Rasulullah
yang terus terancam di Makkah.


Mereka telah lama dibina oleh Mush‘ab bin ‘Umair.
Keimanan mereka tidak berhenti pada keyakinan pribadi.

Ia tumbuh menjadi kesadaran dakwah, kepemimpinan, dan tanggung jawab politik.

Satu pertanyaan mengusik hati mereka:
“Sampai kapan Rasulullah dibiarkan hidup dalam ancaman?”


Maka kontak rahasia pun dilakukan.
Disepakati pertemuan senyap di tengah malam,
📍 di lembah ‘Aqabah, Mina.

Pertemuan ini sangat berisiko.
Jika terbongkar, nyawa taruhannya.


Malam itu hadir 73 laki-laki dan 2 perempuan.

Di antaranya Ummu ‘Imarah,
perempuan luar biasa yang kelak mengangkat pedang demi melindungi Rasulullah
.


Rasulullah
datang ditemani Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib.

Meski belum beriman, Al-‘Abbas berbicara jujur dan tegas:
ini bukan perjanjian ringan.


Ia mengingatkan dengan lugas:
melindungi Rasulullah
berarti
⚔️ menghadapi permusuhan seluruh bangsa Arab.

Jika ragu, mundurlah sekarang.
Tidak ada paksaan. Tidak ada ilusi.


Kaum Anshar menjawab tanpa ragu:

“Wahai Rasulullah, ambillah dari kami—untuk Tuhanmu dan untuk dirimu—apa pun yang Engkau kehendaki.”

Ini bukan janji emosional.
Ini komitmen total, tanpa syarat.


Rasulullah
menyampaikan inti bai’at:
👉 melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi keluarga sendiri.

Artinya jelas:
siap berperang, siap berkorban, bahkan siap kehilangan nyawa.


Seseorang bertanya dengan jujur:
“Jika Allah memenangkanmu, apakah Engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?”

Rasulullah menjawab dengan ikatan yang tak terputus:

“Aku bagian dari kalian, dan kalian bagian dariku.”

🔗 Ikatan iman. Ikatan nasib. Ikatan perjuangan.


Setelah bai’at, Rasulullah
meminta dipilihkan 12 pemimpin.

Ini menegaskan satu hal:
bai’at ini bukan simbolik.

Ia adalah awal pembentukan kepemimpinan, masyarakat, dan kekuasaan Islam.


Bai’at ‘Aqabah Kedua bukan sekadar janji keimanan.

Ia adalah penyerahan:
✔️ perlindungan
✔️ kepemimpinan
✔️ kekuasaan

kepada Rasulullah
dengan kesadaran penuh atas konsekuensi dan risiko sejarahnya.

 

💭 Refleksi untuk Kita Hari Ini
Sejauh mana umat Islam hari ini memahami bahwa iman selalu menuntut tanggung jawab?
Bahwa bai’at bukan sekadar kata, tetapi kesiapan berkorban?

📌 Menurut Anda, apa makna Bai’at ‘Aqabah Kedua bagi umat Islam di zaman sekarang?
Tulis pandangan Anda di kolom komentar 👇

@portalperadabanislam


#SirahNabi #BaiatAqabah #SejarahIslam #IslamKaffah #DakwahIslam #UmatIslam
#KepemimpinanIslam #RefleksiIman #HijrahNabi #IslamRahmatan

Posting Komentar untuk "BAI’AT ‘AQABAH KEDUA — BAI’AT NUSHRah _ Saat Iman Berubah Menjadi Tanggung Jawab Sejarah"