Kemiskinan Indonesia: Buah Pahit Kapitalisme
✨ Kemiskinan Indonesia: Buah Pahit Kapitalisme
Tahukah kamu?
Lebih dari 60% penduduk Indonesia masih hidup miskin (World Bank, 2025).
Bukan karena kita
miskin sumber daya. Indonesia punya emas, batubara, minyak, hutan, laut.
Masalahnya ada di sistem yang mengatur.
Peneliti CORE Indonesia, Muhammad Ishak, menegaskan:
👉 “Kemiskinan bukan takdir. Ia lahir dari
kapitalisme.”
Sistem ini hanya
membuat kekayaan berputar di kalangan elite.
Faktanya?
🔹 10% orang terkaya menguasai hampir setengah
kekayaan nasional
🔹 Jutaan rakyat harus bekerja keras hanya
untuk sekadar bertahan hidup
Ironinya, di daerah yang kaya SDA, rakyat justru menderita akibat:
– Kerusakan lingkungan
– Konflik lahan
– Hilangnya mata pencaharian
Si kaya makin kaya. Si
miskin makin terpinggirkan.
Kapitalisme memberi ruang bagi korporasi raksasa & oligarki untuk menguasai
SDA.
Regulasi lemah. Korupsi
merajalela. Rakyat yang akhirnya menanggung beban.
Beban utang negara makin menumpuk.
Pajak dan pungutan menekan rakyat kecil.
Pendidikan & kesehatan jadi komoditas.
Riba mencekik kehidupan.
Hasilnya? Kesenjangan
makin lebar.
— Solusi
Para ulama menyebut: Islam menawarkan sistem ekonomi yang adil.
Negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat: pangan, sandang, papan, dan
rasa aman.
Dalam Islam:
❌ Riba dihapus
❌ Pajak eksploitatif dihapus
✅ Diganti dengan zakat, kharaj, jizyah, fai
Distribusi kekayaan
diatur agar adil & merata, bukan hanya untuk segelintir elite.
Kepemimpinan Islam menuntut amanah. Negara bertanggung jawab penuh atas rakyat.
Bukan sekadar menyuruh
rakyat mandiri, tapi benar-benar mengurus mereka.
Kemiskinan bukan takdir. Ia lahir dari sistem yang salah.
Kapitalisme melanggengkan ketimpangan.
Islam hadir membawa solusi.
👉 Bagaimana menurutmu?
Apakah sistem Islam layak jadi jalan keluar untuk Indonesia?
@portalperadabanislam
Sumber : https://media-umat.com/
Posting Komentar untuk "Kemiskinan Indonesia: Buah Pahit Kapitalisme"
Posting Komentar