Sultan Sulaiman: Teguh pada Solusi Syar’i, Meski di Puncak Kekuasaan

Sultan Sulaiman: Teguh pada Solusi Syar’i, Meski di Puncak Kekuasaan

Sultan Sulaiman al-Qanuni ingin membangun Masjid Sulaimaniyah di sebuah dataran tinggi yang indah.
Namun ada masalah…
Tanah itu milik seorang Yahudi yang menolak menjualnya.

Bagi banyak penguasa, ini sepele: tinggal rampas, selesai.
Tapi Sulaiman? Tidak.
๐Ÿšซ

Beliau meminta fatwa Syeikh al-Islam.
Jawabannya tegas: tanah itu sah milik orang Yahudi, tidak boleh diambil paksa.
Satu-satunya jalan: kerelaan pemiliknya.

Sultan Sulaiman berpikir sejenak…
Lalu memutuskan: ia akan datang langsung menemui si pemilik tanah.
Bukan lewat utusan, tapi dirinya sendiri.

Bayangkan wajah pemilik tanah itu saat melihat sang Sultan berdiri di depan pintunya.
Penguasa Khilafah, datang dengan tutur santun, memohon agar tanah itu dijual.

Kali ini, Sulaiman menawarkan harga berkali lipat dari sebelumnya.

Hati si pemilik tanah pun luluh.
Ia menjualnya dengan penuh kerelaan — tanpa tekanan sedikit pun.

Di atas tanah itu berdirilah Masjid Sulaimaniyah yang megah, mahakarya arsitektur Islam.

Kisah ini jadi saksi: Keadilan Islam berlaku untuk semua, tanpa memandang agama atau asal-usul.

Sulaiman dijuluki al-Qanuni bukan hanya karena membuat hukum, tapi karena menegakkannya tanpa pandang bulu.

๐Ÿ’ฌ Dari kisah ini, menurut Anda, nilai kepemimpinan apa yang paling layak diteladani hari ini?


@portalperadabanislam

Sumber : https://media-umat.com/







Posting Komentar untuk "Sultan Sulaiman: Teguh pada Solusi Syar’i, Meski di Puncak Kekuasaan "