Jejak Khilafah di Sulawesi: Menyibak Jalinan Politik dan Spiritual yang Terlupakan (Bagian I)
📜 Jejak Khilafah di Sulawesi: Menyibak Jalinan Politik dan Spiritual yang Terlupakan
(Bagian I)
Bayangkan seorang ulama sufi dari Istanbul menginjakkan kaki di Nusantara.
Ia tidak membawa pasukan. Tidak pula menyuarakan pemberontakan.
Namun, kedatangannya langsung membuat kolonial Belanda resah.
Namanya: Syaikh Jamaluddin al-Qadiri.
Kunjungannya ke Sulawesi bukan sekadar perjalanan dakwah.
Ia membawa semangat Khilafah. ⚔️
Bukan ulama sembarangan.
Syaikh Jamaluddin adalah sufi tarekat Qadiriyah,
yang akrab melayani para ulama besar di jantung Khilafah: Istanbul.
Namun hidupnya tak hanya dihabiskan di madrasah.
Ia adalah pengembara. Penjelajah Dunia Islam.
Dari Istanbul, India, lalu Hindia Belanda. 🌍
Tahun 1885, ia tiba di Batavia.
Awalnya optimis—bertemu dengan tokoh Khilafah di tanah Jawa, Galib Bey.
Namun harapannya pupus.
Ia melihat dengan mata kepala sendiri:
bagaimana Belanda merendahkan umat Islam.
Kaum Arab dan pribumi dilecehkan tanpa ampun.
"Anjing lebih baik daripada orang Arab," ujar mereka. 😡
Tak sanggup melihat kezhaliman,
Syaikh Jamaluddin pun berpindah arah: Sulawesi.
Dan di tanah ini, ia menemukan asa.
Para raja Muslim masih berdaulat.
Kekuasaan kolonial belum sepenuhnya menancap.
Sebuah celah untuk membangun perlawanan spiritual.
Kedatangannya disambut bak tamu agung.
Warga memintanya menetap, mengajarkan syariat dan tasawuf.
Ia tinggal selama 10 bulan yang penuh makna.
Dan ketika hendak kembali ke Istanbul,
dua pemuda Sulawesi ikut serta untuk menimba ilmu langsung dari pusat Khilafah. ✈️📖
Belanda tentu mencoba menggagalkan keberangkatan mereka.
Namun, Syaikh Jamaluddin tidak sendiri.
Dengan kecerdikan diplomatik, ia bekerja sama dengan Konsulat Utsmani.
Tiga bulan bersiasat, izin pun keluar.
Dua pemuda Sulawesi akhirnya berangkat ke Istanbul.
Sebuah kemenangan kecil—namun mengguncang semangat umat. ⚡
Warga Sulawesi tak henti-hentinya mendoakan:
"Semoga Khilafah Utsmaniyah semakin kuat, semakin mulia, dan semakin berjaya."
Cinta mereka bukan pada politik,
melainkan pada iman, pada kesatuan umat. 🕋
Kisah ini bukan fiksi.
Ia ditulis langsung oleh Syaikh Jamaluddin dalam laporan kepada Sultan Abdulhamid II.
Kini pertanyaannya:
Apakah hubungan Sulawesi dan Khilafah hanya terjadi pada abad ke-19?
Ataukah jauh lebih tua, lebih dalam, lebih epik dari yang kita kira?
Ingin kita telusuri lebih jauh? Tulis di komentar.
📚👇
💬 Like, share, dan tag temanmu yang cinta sejarah Islam!
🔁 Follow @portalperadabanislam untuk seri berikutnya: "Khilafah & Jejak Perlawanan Spiritual di Timur Nusantara".
Sumber : https://alwaie.net/
1 komentar untuk "Jejak Khilafah di Sulawesi: Menyibak Jalinan Politik dan Spiritual yang Terlupakan (Bagian I)"
sebelah timur, barat, selatan dan Utara.
Dengan batas-batas kekuasaan Paunggah yakni =
=> Sebelah selatan Sombala sialloa Passulu'na.
=> Sebelah Utara, ero Pantama'na.
=>Sebelah Barat, Cilallang Panaunna.
=> Sebelah Timur, Bantaeng Panai'na.
Paunggah seorang pengembara menjelajahi dunia dengan perahunya yang disebut biseang Manyumbalang.
Beliau Paunggah yang pertama kali menerima Islam sebelum kedatangan para da'i yang masuk di daerah Sulawesi.
Beliau Paunggah menetapkan hukum Islam diatas kekuasaan Kare Baji untuk mengatur segala aspek kehidupan rakyat Butta Turatea ri Layu.
Artinya, Bumi Turatea sudah mengenal syariah Islam secara kaffah sekalipun pada masa itu kekuasaan bumi Turatea masih disebut Sistem Pemerintahan Kare.
Kare berasal dari kata Karim. Jadi, sejatinya bumi Turatea budaya Aslinya adalah budaya Islamiyyah.